artikel

Mengajari si Kecil Mengolah Rasa Marah

Setelah sebelumnya kita membahas tentang bagaimana cara menghadapi si kecil yang hiperaktif, kali ini kita akan belajar tentang Mengajari si Kecil Mengolah Rasa Marah, Yuk Kita belajar bersama bundaa.

     Rasa marah bukan hanya dimiliki oleh orang dewasa saja dan terkadang rasa marahnya seorang anak-anak lebih sulit untuk diredam dibandingkan rasa marahnya orang dewasa. Maka dari itu orang tua sangat berperan dalam mengajari si kecil dalam mengolah rasa marah dan emosi. Jika si kecil tidak diajari dalam hal mengolah rasa marah, dikhawatirkan karakter marah tersebut akan berkembang buruk di masa yang akan datang.

     Contohnya, frustasi dan kemarahan dalam diri si kecil dapat membuatnya tumbuh dengan memiliki sifat pembangkang, rasa tidak hormat, agresif dan juga amarah yang berlebihan. Maka sebisa mungkin bunda dan ayah diharuskan untuk bisa mengolah dan mengajarinya dalam mengendalikan rasa marahnya tersebut.

     “Kurangnya peran orang tua dalam memberikan pendidikan mental dan emosional pada usia dini akan berdampak pada kondisi mental anak di masa mendatang. Kesalahan pola asuh sejak dini dapat menyebabkan rasa tidak percaya. Rasa malu, ragu, rasa bersalah, tidak percaya diri, pemarah serta perasaan rendah diri dalam diri anak” ujar dr. Reza Fahlevi dari klikdokter. Maka dari itu inilah beberapa cara dalam mengendalikan emosi kecil yang kerap kali muncul.

1.  Membedakan Antara Perasaan dan Perilaku
    Marah itu emosi yang normal dan juga sehat. Akan tetapi si kecil terkadang belum memahami dan dapat memisahkan antara perasaan marah dan perilaku agresif. Ajari si kecil untuk bisa membedakan perasaannya, sehingga dia bisa mengungkapkan perasaan marah, frustasi, dan kekecewaan secara verbal.
    Salah satu caranya bunda atau ayah bisa mengatakan “Tidak apa-apa untuk merasa marah, tetapi tidak baik bila sampai memukul.” Dengan cari ini si kecil berkemungkinan besar akan lebih mengetahui mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika marah.
    Terkadang perilaku agresif berasal dari berbagai perasaan tidak nyaman seperti kesedihan atau rasa malu, maka bicaralah mengenai perasaanya. Seiring waktu hal tersebut akan membantu si kecil dalam belajar untuk mengenali perasaannya lebih baik.

2.  Buah Tidak Jatuh Jauh Dari Pohonnya
   Seperti itulah kurang lebih. Jika si kecil melihat bunda atau ayah kehilangan kesabaran, maka kemungkinan besar ia akan melakukan hal yang sama. Begitu pula sebaliknya.
    Dr. Reza mengatakan bahwa “anak akan mengikuti sikap dan perilaku orang tua. Jika anda atau pasangan anda pemarah, maka ubahlah sifat tersebut agar anak anda tidak mengikuti sifat tersebut. Berikanlah perhatian, kasih sayang dan pengertian yang cukup kepada anak, tetapi tetap tegas, agar anak tetap menghormati orang tua dan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin.”

3.  Buat Aturan
     Kebanyakan keluarga memiliki peraturan yang tidak tertulis. Contohnya, beberapa keluarga mungkin tidak keberatan menonton TV hingga larut malam. Akan tetapi, ada juga keluarga lain yang tidak menoleransi perilaku semacam ini. Maka dari itu bunda dan ayah bisa membuatkan peraturan yang tertulis.
    Bunda dan ayah bisa membuat peraturan yang mengaruskan anak anda menghindari agresif fisik, mengumpat dan menghancurkan benda. Maka dari itu si kecil akan mengerti bahwa dia tidak dapat membuang dan merusak barang, atau menyerang secara verbal dan fisik seenaknya ketika ia sedang merasa marah.

     Jangan sampai si kecil tumbuh menjadi anak yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Maka dari itu bunda harus bisa mengajarinya sejak dini mengenai bagaimana mengendalikan dan meredam rasa marah yang dialaminya.

Source : www.klikdokter.com 
 

Keyword : Indokids, Baby Shop, Baby and Kid Mart, Terbaik, Termurah, Terlengkap, Perlengkapan bayi dan ibu hamil

Related Posts